Warisan Budaya Indo Belanda Di Sawahlunto Sumatera Barat

WARISAN BUDAYA INDO BELANDA 
 DI SAWAHLUNTO SUMATERA BARAT
Oleh : Zaiyardam Zubir 
 
Pengantar
Melihat posisi daerah Sawahlunto dari peta geografis Sumatea Barat, sesungguhnya daerah ini terdapat di pelosok terpencil di jantung pedalaman pulau Sumatera. Sebagai daerah terpelosok di pedalaman, logikanya akan sulit dijangkau dan tidak menarik orang untuk datang, kecuali ada yang luar biasa terdapat di tempat itu. Sawahlunto memang memiliki hal yang luar biasa yaitu mengandung batu bara, yang pada abad 19 menjadi komoditi utama di dunia industri, terutama untuk menjadi bahan bakar untuk berbagai industri seperti pabrik, kapal dan kereta api.  Tidak heran, orang-orang dari berbagai etnis dari penjuru dunia berdatangan  ke Swahlunto seperti Belanda, Cina, Jawa, Bugis dan Batak untuk mengadu untung mempertaruhkan nasibnya di kota tambang itu.
Kedatangan mereka tentu saja dengan berbagai motif mendatangi kota yang jauh tersembunyi di pelosok Sumatera itu. Motif setiap etnis yang mendatnbgi sawahlunto itu memang beragam, sesuai dengan etnisnya. Orang Belanda bertujuan ke Sawalunto untuk mengeksploitasi batu bara. Orang Cina dan Jawa dengan motif mencari kerja dan ada juga karena menjadi buruh paksa, terutama dari Jawa, Bugis dan Bali.[1] Dari semua etnius yang ada, maka orang-orang Belanda lah yang menjadi central dari semua akrtivitas dan dinamika yang ada, sehingga dapat di katakan bahwa Sawahlunto ini lahir dan berkembang karena kedatangan orang Belanda ke kota. Sebelum kedatangan orang-orang Belanda, wilayah Sawahlunto hanyalah sebuah wilayah yang dipenuhi oleh ladang ilalang yang tidak bisa ditanami dan persawahan penduduk di sekitar aliran sungai Lunto. [2] Namun, setelah ditemukan batu bara, ladang Ilalang ini berubah fungsi menjadi kota tambang dengan berbagai infrastruktur pendukungnya sepetrti gerdung-gedng perkantoran, rumah bola, perumahan petinggi tambang.
Kedatangan orang Belanda ke Sawahlunto diawali oleh ekspedisi yang di lakukan oleh Groot, seorang geolog berkebangsaan Belanda pada tahun 1857. Groot, seorang geolog Belanda dalam perjalanannya ke Tanjung Ampalu, 20 km dari Swahluto melaporkan bahwa terdapat batu bara antara Tanjung Ampalu dengan Padang Sibusuk. 10 tahun Kemudian, Greve seorang geologi Belanda lainnya juga menemukan batubara Ombilin. Sejak ditemukannya batu bara Ombilin oleh Greve tahun 1868,[3] hal  itu menjadi cikal bakal masuknya pemerintah Belanda dalam bisnis tambang batu bara.
Keinginan dari pemerintah kolonial Belanda itu untuk menanamkan modal dalam jumlah yang sangat besar untuk menambang batu bara dengan  pemikiran dasar bahwa kandungan batu bara yang terdapat di Sawahlunto itu sangat banyak. Memang, jika dilihat dari jumlah batu bara yang terdapat di wilayah Sawahlunto, sesungguhnya itu cukup menjanjikan untuk mendapatkan keuntungan dalam jum,lah yang besar. Dari laporan pendahuluan yang dibuat  geolog Belanda yang bernama Verbeek, batu bara yang terdapat di Sawahlunto ini sangat besar dan diperkirakan mencapai 200 juta ton atau cukup untuk memakmurkan 7 turunan.[4]
Perkiraan Jumlah batu bara di Sawahlunto itu sangat menggiurkan orang-orang Belanda. Harapan besar untuk mendapatkan kekayaan membuat mereka menjadi antusias untuk menambang batu bara dsi Sawahlunto. Hal ini akan terbukti nantinya, sebelum ditemukan batu bara, sawahlunto hanya sebuah desa kecil yang dihuni ratusan penduduk asli. Namun, setelah  menjadi kota tambang, kota ini mencapai 10.000 orang dari berbagai etnis. Orang Belanda saja misalanya, mengaslami jumlah yang pesat bekerja di Sawahunto. Pada tahun-tahun awal dibukanya tambang, orang Belanda tahun 1894 hanya 10 orang di Sawahlunto. Namun, tahun 1918 terjadi perkembangan yang pesat, dan orang Belanda yang bekerja dan mendiami kota ini mencapai 136 orang, sebuah jumlah yang sangat besar pada waktu itu.[5]
Sawalunto Kota Multi Etnik
Dapat dikatakan bahwa Kota Sawahlunto merupakan salah satu contoh nyata dari sebuah Indonesia mini karena beragamnya etnis yang mendiami kota ini. Sebagai Miniatur Indonesia, kota yang didirikan untuk kepentingan kolonial Belanda itu, pihak perusahaan merekrut buruh dari berbagai pelosok Nusantara. Buruh yang pertama didatangkan adalah etnis Cina dari Singapura dan Penang Malaysia. [6] Sehabis masa kontraknya, buruh-buruh Cina itu tidak mau memperpanjang kontrak, sehingga direkrut buruh-buruh dari Jawa. Ada 3 corak buruh yang bekerja di batu bara Ombilin yaitu buruh hariasn, buruh kontrak dan buruh paksa. Buruh harian adalah buruh yang bekerja dengan upah harian. Buruh ini umumnya berasal dari orang Minangkabau, terutama penduduk sekitar wilayah penambangan. Buruh  kontrak adalah buruh yang bekerja dengan masa kontrak 3 tahun sampai 5 tahun. Buruh kontrak ini umumnya berasal dari daerah-daerah kontang miskin di pulau Jawa, sedangkan buruh paksa adalah buruh yang direkrut dari berbagai penjara di Jawa, bali dan Makasar. Buruh paksa ini umumnya adalah para hukuman karena berbagai persoalan di masa lalu seperti pencuri, perampok dan pembunuh serta pemberontak.[7]
Para penghuni kota Sawahlunto ini sesungguhnya menjadi modal dasar dari terbentuk nya paham nasionalisme Indonesia. Kesadaran kolektif sebagai bangsa yang majemuk sudah ada dalam diri mereka, karena sebagai suku bangsa, mereka sudah mengenal etnis-etnis lainnya. Proses pengenalan yang berjalan setiap hari ini  kemudian menumbuhkan sebuah kesadaran baru sebagai sama-sama kelompok yang terjajah dari kekuasaan asing. Baik buruh harian, bnuruh kontrak maupun buruh paksa, suasana kerja yang tidak kondusif dan upah yang tidak membuat mereka sejahtera, membuat mereka menyadari bahwa mereka sesungguhnya adalah anak jajahan.
Kesadaran sebagai anak jajahan ini kemudian dipertajam lagi oleh tokoh-tokoh buruh sehingga menimbulkan gejolak yang luar biasa di kalangan tambang. Beberapa peristiwa seperti pemberontakan buruh tambang batubara Ombilin dan masyarakat sekitaranya awal tahun 1927 membuktikan bahwa mereka telah memiliki kesadaran kolektif untuk melawan kolonial Belanda. [8] Kesadaran kolektif ini kemudian membentuk sebuah nuansa baru sebagai bangsa yang terjajah bahwa mereka dari berbagai etnis ini sesungguhnya mengalami nasib yang sama yaitu dijajah Belanda. Kesadaran kolektif ini lah menurut Facri Ali kemudian menjadi kesadaran berbangsa dan menjadi cikal bakal menuju kesadaran Indonesia.[9] Dalam perjalanannya, kesadaran kolektif  yang sudah ada dalam masyarakat multi kultural inilah menjadi modal besar dalam pembentukan Nasinalisme Indonesia.
Bagi masyarakat Sawahlunto, keragaman etnis ini sudah menjadi hal yang itegral dalam masyarakat. Keberadaan aneka etnis ini membuat mereka satu etnis dengan lainnya sudah terjalin komunikasi budaya yang komplek. Melalui berbagai interkasi seperti perkawinan, budaya, olahraga maupun organisasi, komunikasi anatar etnis sudah berjalan dengan lancar. Walaupun terjadi berbagai ketegangan-ketegangan di lapisan akar rumput, konflik antasr etnis tidak begitu menonjol di Sawahlunto. Ketegangan yang kuat justru antar kampung ataupun antara masyarakat dengan pihak perusahaan tambang batu bara, terutama sekali persoalan ketidakadilan yang dirasakan masyarakat dalam menikmati hasil tambang.  Dapat dikatakan bahwa masyarakat asli Sawahluto hanya sebagai penonton dalam eksploitasi hasil kekayaan mereka, diatas tanah warisan nenek moyang mereka sendiri.  Bahkan, tidak jarang mereka juga di eksploitasi.
Memang tak dapat dipungkiri bahwa tambang batu bara Ombilin menjadi bukti penting dari kehadiran Belanda di Sawahlunto Sumatera Barat. Penggalian batubara itu tidak hanya menguntungkan Belanda, tetapi juga membawa perubahan dasar bagi masyarakat seperti terbukanya masyarakat bagi pendatang dari luar.  Keterbukaan itu ditandai dengan masuknya berbagai etnis dari luar sekaligus membawa pengaruh masing-masing. Kedatangan mereka lebih banyak berkaiatan dengan kepentingan tambang seperti menjadi buruh.
Bahkan, sejak dibukanya tambang batubara tahun 1891, pihak pemerintah Belanda  telah mendatangkan berbagai pekerja seperti orang Cina dari Penang dan Singapura dan orang Jawa sebagai buruh kontrak (contractanten). Kelompok pekerja lainnya adalah buruh paksa (dwangerbeiders).[10]  Buruh paksa itu biasanya diambil dari  narapidana seperti  pembunuh, perampok dan pemberontak. Mereka diambil   berbagai penjara di Sumatera Barat, Jawa, Bali dan Makasar. Belakangan ini, orang Minangkabau yang awalnya enggan bekerja sebagai buruh tambang juga mulai terlibat dalam kegiatan ini, terutama sebagai  buruh bebas (vrije arbeiders) [11] Dari ketiga kategori di atas, mereka mendapat imbalan yang berbeda. Dari segi jaminan kesejahteraan buruh kontrak merupakan kelompok yang mendapat jaminan paling memadai, sedangkan buruh paksa justru mendapat perlakuan yang tidak manusiawi. Dapat pula  dipahami, karena sulit dan besarnya biaya untuk mendatangkan buruh ke Sawahlunto, karena harus didatangkan dari luar. Buruh etnis cina yang pertama didatangkan dari Singapura dan Penang hanya bertahan l masa kontrak saja. Setelah habis  kontraknya, mereka berhenti menjadi buruh. Buruh kontrak yang bertahan lama justru mereka yang datang dari Jawa, yang selalu menyambung masa kontraknya, sehingga mereka bertahan sampai anak cucu nya di Sawahlunto.[12]
Pada satu sisi, perusahaan memperlihatkan kemajuan yang ditandai dengan keuntungan besar yang diperolehnya. Pada masa jaya-jayanya tambang batu bara Ombilin sepanjang tahun 1930-an, perusahaan mampu memprduksi batu bara mencapai puncaknya 624.000 ton setiap tahunnya. [13] Persoalannya adalah buruh tidak dapat menikmatinya, karena mereka di eksploitasi habis-habisan oleh pihak perusahan. Hal ini dapat dibuktikan dari tingkat upah yang diterima oleh buruh tambang batu bara Ombilin tetap saja tidak dapat meningkatkan taraf hidup mereka. [14]

Corak Warisan Budaya Indo Belanda di Sawahlunto
Kehadiran Belanda di Sawahlunto lebih kurang 50 tahun.  Warisan yang ditinggalakan Belanda selama 5 tahun itu sesungguhnya cukup beragam seperti sarana dan prasarana tambang. Setiap pembangunan yang dibuat sesungguhnya berkaitan erat dengan kebutuhan eksploitasi tambang.
Sejalan dengan kedatangan orang-orang Belanda ke Sawahlunto sebenarnya juga diikuti dengan pengembangan kebudayaan Belanda. Budaya yang dikembangkannya tidak terlepas dari tradisi yang mereka miliki di kampung halamannya di Belanda. Hanya saja, dalam beberapa hal, keterbatasan di Sawahlunto membuat mereka kadang menyesuaikan dengan kondisi geografis, kesediaan bahan dan alam sekitarnya. Mau tidak mau, kebudayaan yang lahir tidak lagi murni sebagaimana yang terdapat di Belanda, akan tetapi sudah menyesuaikan. Terpaksa atau dipaksa alam dengan ligkungan yang ada di Sawahlunto. Berbeda jauh dengan alam Belanda yang mengenal ada 4 musin yaitu panas, dingin kemarau dan semi, maka di Sawahlunto hanya dikenal musim panas dan hujan saja. Dengan sendirinya, kehidupan yang dikembangkan di Sawahlunto haruslah disesuaiakan dengan kondisi musim dingin saja, sehingga dikaitkan dengan corak bangunan, maka berbagai upaya untuk membuat ruangan jadi sejuk haruslah dilanjutkan. Daun pintu yang besar, jendela, dan pentilasi udara menjadi hal pokok dirancang secara permanen di Sawahlunto. Berbeda dengan di Belanda, dimana pentilasi dan jendela haruslah bisa disesuaikan dengan ckondisi musim yang ada. Beberapa warisan penting dari kebudayaan Indo Belanda  di Sawahlunto adalah :

1. Kereta Api
Menempatkan kereta api ini sebagai warisan budaya kolonial Belanda yang utama adalah artefak kebudayaan dari kereta api ini masih ditemukan sampai sekarang. Bahkan, sedemikian pentingnya kereta api ini, menjadikan Sawahlunto yang awalnya sebagai daerah terisolir dan hanya hutan ilalang menjadi sebuah pusat kota tambang yang sangat dinamis. Ketika pemerintah Kolonial Belanda berniat membuka tambang, maka hal pertama yang dipikirkan adalah cara mengangkut kereta api ke pelabuhan Telur Bayur di pantai barat Sumatera. Dengan berbagai pertimbangan kondisi alam, maka jalan terbaik adalah membuat jalur kereta api dari Teluk Bayur ke Sawahlunto.[15]
Sehubungan dengan Sumatera Barat dilalui oleh jajaran Bukit Barisan, maka jalur yang mungkin bisa ditembus adalah memutar melalui Padang Panjang dan menambah jarak sekitar 50 km, sebab jika melalui wilayah perbukitan Sitinjau Laut, maka sangat tidak memungkinkan membuat jalur kereta api karena alamnya penuh dengan bukit-bukit terjal. Dalam konteks ini, Rusli Amran menyebutkannya sebagai 3 warisan utama Belanda dengan istilah 3 serangkai yaitu Teluk Bayur, jalur kereta api dan tambang batu bara Ombilin, sebagai kesatuan warisan Belanda.[16]

2. Rumah Pejabat Kolonial
Setelah berhasil membuka jalur kereta api ke Sawahlunto, daerah yang sebelumnya merupakan pedalaman dan penuh ladang ilalang, kemudian menjadi sebuah kota tambang yang penuh dengan dinamika. Dalam perkembangannya, sedikit demi sedikit, pembangunan fisik mulai dilakukan oleh pihak tambang untuk memenuhi kebutuhan perumahan. Untuk kebutuhan rumah pejabat Belanda, maka dibuatlah rumah-rumah yang permanen, sedangkan untuk kebutuhan buruh, mereka ditempatkan di ledeng-ledeng, yang sederhana saja.
Selain rumah-rumah pribadi, tambang batubara juga menyediakan tempat tinggal untuk bujangan Belanda. Tempat tinggal itu biasanya seperti hotel, dan bisa ditempatkan oleh beberapa orang karyawan. Rumah karyawan ini sekarang dijadikan hotel oleh pihak PT. Tambang batubara Ombilin.  Dengan fasilitas tingkat dan kamar sebanyak 20 kamar, pada masa jaya-jaya tambang batubara Ombilin, rumah kediaman pejabat Belanda ini menjadi tempat yang sangat nyaman bagi karyawan kebangsaan Belanda yang bekerja pada perusahaan tamabang batu bara Ombilin Sawahlunto.

3. Sarana Hiburan
Sebagaimana rumah bola Harmoni di Jakarta, maka di Sawahlunto Belanda juga membuat sarana hiburan. Warisan bangunan dari rumah bola di Sawahlunto itu sampai sekarang masih terpelihara dengan baik. Oleh masyarakat, bekas rumah Bola iotu sekarang dimanfaatkan untuk kantor Pusat Kebudayaan Sawahlunto.  Pada rumah bola ini, sering dijadikan sebagai tempat dansa, biliyard dan hiburan masyarakat kalangan atas tambang lainnya.

4. Goedang Ransoem
Jumlah buruh yang bekerja di Tambang Batu bara Ombilin mencapai 8.000-an. Untuk memenuhi kebutuhan makanan sehari-harinya, maka pihak tambang menyiapkan makanannya secara bersama. Komsumsi sehari-hari untuk pergi bekerja di tanggung dan disediakan oleh pihak tambang. Konsep ini bukan berarti pihak perusahaan memikirkan kesejahteraan buruh, akan tetapi hal ini dilakukan untuk menjaga kondisi kesehatan buruh harus tetap prima. Medan kerja yang berat, karena umumnya batu bara yang di gali adalah lapisan C dan terdapat di perut bumi, maka dibutuhkan kondisi yang prima. Jika buruh sakit, maka akan menjadi beban tambahan dari perusahaan, sehingga pihak perusahaan menjaga secara prima kondisi pihak buruh. Untuk itu, dapur umum yang dibuat pihak perusahaan mampu menyiapkan makanan untuk 6.000 ribu orang setiap harinya.

5. Gereja
Setiap kota yang banyak dihuni oleh orang Belanda, maka mereka mendirikan gereja di kota itu. Begitu juga dengan Sawahlunto. Jumlah orang Belanda yang mencapai ratusan orang, maka mereka membuat gereja sebagai sarana ibadah dan ritual umat kristiani. Sampai sekarang masih berdiri kokoh. 
Penutup
Kesimpulan pokok dari kedatangan Belanda ke Sawahlunto adalah terjadinya suatu perubahan yang besar dalam tatanan kehidupan masyarakat Sawahlunto. Sebelum kedatangan Belanda, Sawahlunto hanyalah kampung kecil dengan penduduk 200-an orang, namun setelah batubara di eksploitasi, kampung itu berubah bentuk menjadi kota tambang dengan penduduk mencapai 10.000 abn orang. Orang-orang yang mendatangi Sawahlunto itu berasal dari berbagai suku bangsa seperti Cina, Jawa, Bugis, Bali, Batak dan Belanda. Orang-orang Belanda lah yang menjadi elite kelas dalam masyarakat tambang. Sebagai elite kelas, maka orang Belanda mewariskan berbagai kebudayaan artefak di Sawahlunto.
Warisan kebudayaan artefak Belanda di Sawahlunto masih terlihat dengan jelas sampai sekarang ini. Beberapa bangunan seperti kantor pusat PT Batubara Ombilin, rumah pejabat Ombilin, hotel Ombilin, gereja, gedung kesenian dan gudang ramsun merupakan bukti nyata dari warisan budaya Indo Belanda Sawahlunto.
Corak bangunan yang dikembangkan sebenarnya bercorak Belanda. Warna lokal sebenarnya tidak terlihat, terutama bentuk corak tradisional bangunan Minangkabau yang beratap lonjong. Mulai dari atap, pintu sampai arsitektur bangunan, corak bangunan khas Belanda sebenarnya yang mendominasi warisan kebudayaan artefak Belanda di Sawahlunto.  Keberadan bangunan seperti ini sebenarnya sebuah langkah untuk mengingatkan mereka akan tanah airnya di Belanda, sedangkan kehadiran mereka di Sawahlunto hanayalah untuk mengeksploitasi batu bara dan kemudian setelah mereka kumpulkan uang, mereka kembali ke Belanda sebagai orang kaya baru.[17]


[1] Zaiyardam Zubir, “Orang Rantai, Orang Tambang dan Orang Lobang : Studi Tentang Eksploitasi Buruh Tambang Batu Bara Ombilin, dalam Edy S. Ekawati dan Susanto Zuchri (Eds), Arung Samudra : Persembahan Memperingati Sembilan Windu A.B. Lapian. Jakarta : PPPBUI Jakarta,  2001. 
[2] Zaiyardam Zubir (dkk), Sawahlunto : Dulu, Kini dan Esok. Padang : PSH Unand, 2005. hal. 37.
[3]W. H. van Greve, Het Ombilin Kolenveld in Padangsche Bovenlanden  en het Transport System ter SWK.  Den Haag : Martinus Nijhoff, 1871, 12-40.   
[4]Diolah dari R.D.M. Verbeek, Sumatra’s Westkuust, Verslag No. 3, Het Ombilin Kolenveld in de Padangsche Bovelanden, dalam, Jaarboek van het Mijnwejen in Nederlandsch Oost-Indie. (Amsterdam : C.F. Stemler, 1875), hal. 82.
[5]Erwiza Erman, Membaranya Batu Bara. Konflik Kelas dan Etnik Ombilin Sawahlunto-Sumatera Barat 1892-1996. Jakarta : Desantara, 2005, hal. 67.
[6] Zaiyardam Zubir, Pertempuran Nan Tak Kunjung usai : Eksploitassi Buruh Tambang Batu bara Ombilin 1891-1927. Padang : Unand Press, 2006
[7] Zaiyardam Zubir , op.cit.
[8] Abdul Muluk Nasution, Pemberontakan Rakyat Silungkang Sumatera Barat 1926-1927. Jakarta : Mutiasra, 1981.
[9] Facri Ali, “Misteri Indonesia”, dalam majalah Tempo, Agustus 1981.
[10]  G.H. Nypels, Dwangerbeiders of Contractkoelies als Wekvolk in de Ombklinmijnen, dalam. De Indische Gids. Amsterdam : J.H. de Bussy, 1925.
[11] Zaiyardam Zubir, 2001, op.cit.
[12] Erwiza Erman, op.  cit
[13] Firman Jalal dkk, Sejarah Ringkas Pertumbuhan Kota Sawahlunto sumatera Barat. 1 juli 1918 sampai 1 Juli 1972.  Sawahlunto, 1972. 
[14] Jka dalam ajaran Kristen ada ungkapan dosa warisan, maka dalam sejarah buruh tambang batu bara Ombilin mestinya juga ada utang warisan yang harus dibayar, utang yang ditimbulkan oleh pemerintah kolonial Belanda terhadap buruh tambang batu bara Ombilin selama mereka dieksploitasi menjadi buruh. 
[15] Verslag der Exploitatie van den Staatsspoorweq ter Sumatra’s Westkust en van de Ombilin-kolenvelden over 1893. Batavia : Landsdrukkerij, 1894-1930.
[16] Rusli Amran, Sumatera Barat Plakat Panjang.  Jakarta : PT Sinar Harapan, 1981. 


[17] DAFTAR  PUSTAKA__

Adeng Sunardi, 100 Tahun Tambang Batu Bara Ombilin. Sawahlunto : Tanpa Penerbit, 1991.
Beckhoven, J. van, Een Reisje van Padang Naar de Ombilien-Kolenvelden. Den Haag : Martinus Nijhoff, 1906.
Cluysenaar, J.L., Rapport Over de aanleg van een Spoorweqen Verbinding van den Ombiin Kolenvelden op Sumatra met de Ind. Zee. Batavia : S-Gravehage G. Kolff & C0., 1876.
Cote, Joost adan Loes Westerbeek (eds), Tecalling the Indies  Kebudayaan Kolonial dan Identitas Postkolonial. Yogyakarta : Syarikat Indonesia, 2004.
Erwiza Erman, Membaranya Batu Bara. Konflik Kelas dan Etnik Ombilin Sawahlunto-Sumatera Barat 1892-1996. Jakarta : Desantara, 2005.
Greve, W.H. van Het Ombilin Kolenveld in Padangsche Bovenlanden en het Transport Systeem ter Sumatra Westkust. Leiden : Martinus Nijhoff, 1871.  
Jaarboek van het Mijnwezen in Nederlandsch Oosti-Indie , Sumatra’s-Westkust, Verlaq No. 1. Amsterdam : C.F. Stemler, 1875-1930.
Firman Jalal dkk, Sejarah Ringkas Pertumbuhan Kota Sawahlunto sumatera Barat. 1 juli 1918 sampai 1 Juli 1972.  Sawahlunto, 1972.
Nypels, G.H., “Dwangerbeiders of Contractkoelies als Wekvolk in de Ombilinmijnen”, dalam De Indische Gids. Amsterdam : J.H. de Bussy, 1925.
Rusli Amran, Sumatera Barat Plakat Panjang.  Jakarta : PT Sinar Harapan, 1981,
Sandick, R.A., van, “Het Laatste Hoodstuk van de Ombilin-questie”, dalam De Indische Gids. Amsterdam : J.H. de Bussy, 1892.
Verbeek R.D.M., “Over de beste Ontginningswijze van een Gedeelte van het Ombilien-kolenveld”, dalam Jaarboek van Mijwezen Nederland oost Indie. Batavia : Landsdrukerij-Weltervreden, II, 1875.
Verslag der Exploitatie van den Staatsspoorweq ter Sumatra’s Westkust en van de Ombilin-kolenvelden over 1893. Batavia : Landsdrukkerij, 1894-1930.
Yahya A. Muhaimin, Bisnis dan Politik  : Kebijaksanaan Ekonomi Indonesia 1950-1980. Jakarta : LP3ES, 1991
Zaiyardam Zubir, “Orang Rantai, Orang Tambang dan Orang Lobang : Studi Tentang Eksploitasi Buruh Tambang Batu Bara Ombilin, dalam Edy S. Ekawati dan Susanto Zuchri (Eds), Arung Samudra : Persembahan Memperingati Sembilan Windu A.B. Lapian. Jakarta : PPPBUI Jakarta,  2001. 
______________ “Pemberontakan  Buruh Tambang Batu Bara Ombilin” dalam Zaiyardam Zubir, dalam Radikalisme Kaum Pinggiran : Studi Tentang Issue, Strategi dan Dampak gerakan   Yogyakarta : Insist Press, Desember 2002.
_________________, Sawahlunto : Dulu, Kini dan Esok. Padang : PSH Unand, 2005. hal. 37.
______________, Pertempuran Nan Tak Kunjung usai : Eksploitassi Buruh Tambang Batu bara Ombilin 1891-1927. Padang : Unand Press, 2006
Surat kabar Mimbar Minang, Juni 2002
Surat kabar Soeara Tambang, Mei 1925

No comments:

Post a Comment

Senang dengan komentar, tanggapan maupun saran Anda. Terima Kasih