SOSIAL: PEMULUNG BATUBARA

PREMPUAN PEMULUNG BATUBARA
by; Yonni Saputra

Pemulung, sebuah fenomena yang tidak asing lagi barangkali di tengah kehidupan kita. Apakah fenomena pemulung merupakan gambaran kemiskinan atau sulitnya lapangan pekerjaan dan entah alasan apa lagi. Tapi itulah kenyataan yang terjadi hampir disetiap sudut negeri ini.  Fenomena itu selalu dapat ditemui. Bagaimana  dengan pemulung batu bara?  juga kah bagian dari  itu semua. Karena itulah kami coba menapak keseharian mereka dari dekat.
Siang itu kami berusaha memasuki areal pertambangan di Guguak Tinggi  Sawahlunto. Daerah itu bagian dari kawasan tambang sekitar Parambahan yang berjarak ±12 KM dari pusat kota Sawahlunto. Begitu kami memasuki jalan menuju lokasi, aroma kehidupan tambang mulai tercium. Jalan berkerikil dan berdebu tebal. Sebentar-sebentar jalan itu ditutupi kabut debu yang diterbangkan hembusan angin dari truk-truk yang lalu lalang keluar masuk.

Kami mesti sampai tujuan menemui para pemulung itu dan menyaksikan secara dekat kehidupan sosial mereka para pemulung. Pemulung ? bukankah itu hal biasa dan ada dimana-mana apalagi sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah. Sudah lama perhatian saya, karena karakteristik pemulung yang ini sangat lain. Mereka sama sekali tidak memungut barang bekas seperti botol dan kaleng minuman, dus serta barang-barang bekas lainnya. Tapi pemulung diwilayah ini nyaris tidak mempedulikan barang bekas demikian itu, lagipula memang bukan TPA atau areal pemukiman yang memproduksi sampah rumah tangga. Lantas apa yang mereka pulung ?

Nah...!, itu dia yang menarik disini, pemulung disini memburu batubara yang tercecer dan berserakan disekitar areal tambang. Apalagi saat ada ekskavator, buldoser  mengupas lapisan tanah dan membuangnya ke tempat lain. Atau truk-truk pengangkut buangan tanah galian tambang batubara. Disana sudah menunggu puluhan orang pemulung dengan penuh harap pada setiap tanah buang tersebut terselip serpihan dan pecahan atau bongkahan batubara. Begitu tanah itu ditumpahkan mereka (para pemulung) siap-siap dan berebutan agar dapat memperoleh lebih banyak. Padahal itu kadang-kadang membahayakan dan berisiko terhadap keselamtaan. Bisa-bisa meeka tertimpa tanah atau batu yang mengelinding dari truk ketika memuntahkan muatan tanah yang bercampur bebatuan itu. Sebagaimana yang tertangkap oleh kami seperti yang diungkapkan petugas dari perusahaan yang mengawasi lokasi.
                    “Itu lah, tolong sampaikan, kasihan kita melihat  mereka. Sesungguhnya bekerja seperti ini tidak dibolehkan oleh perusahaan tambang, disini penuh bahaya, tapi bagaimana kita melarang mereka. Perempuan-perempuan itu mencari hidup dari sini”

Komunitas pemulung batubara disini didominasi kaum hawa. Kalau pun ada kaum laki-laki, itu paling anak-anak dan suami pemulung perempuan yang tidak punya pilihan pekerjaan lain. Bagi saya mereka adalah perempuan-perempuan tegar yang terus berjuang. Bayangkan, mereka rela meninggalkan rumah dan keluarga demi mempertahankan dan meraih masa depan keluarga. Menjadi ibu, sekaligus memikul beban tanggungjawab sebagai kepala rumahtangga, itulah yang dilakoninya oleh rata-rata ibu-ibu pemulung ini. Mengais serpihan 'emas hitam', batu bara yang tercecer, berserakan dan terselip diantara timbunan, dijalani tanpa kenal lelah. Satu persatu ceceran batu bara itu dikumpulkan, tidak peduli panas terik panas dan bermandikan debu yang berterbangan dari truk-truk pengangkut tanah yang hilir mudik. Mimpi dengan predikat menjadi ibu yang bersahaja ditengah keluarga, atau bundo ditengah kultur yang mengikat menjadi “potret buram”. Inikah potret era perempuan modern, mereka-mereka yang diatas tidak lagi pernah mau mengerlingkan mata melihat ke bawah, mereka-mereka yang semakin merunduk dihimpit beban hidup.

Apa gerangan faktor dan dorongan yang memyebabkan mereka meninggalkan rumah, anak-anak bahkan suami. Kami coba menemukan jawaban dari seorang ibu yang sedang mencongkel-cokel tanah. Sang ibu sedikit keheranan karena ia tahu kami menghampirinya. Ternyata wanita yang berumur 50 tahunan ini bernama ibu Asni, katanya mau bergabung dengan teman-temannya sesama pemulung batu bara di dekat pembuangan tanah penggalian batu bara oleh perusahaan tambang.
Sepanjang jalan menuju lokasi dimana ia akan bergabung denga ibu–ibu pemulung lainnya, ibu Asni dengan senang hati menceritakan profesi dan latar belakangnya. Sebelum suaminya meninggal tahun 1994 , lebih kurang 14 tahun silam ia dan dan suami hanya pencari kayu bakar di hutan sekitar tempat tinggalnya. Itu semua dijalani demi menghidupi keluarga dengan 5 orang anak. Jalan hidup yang digariskannya pun berkata lain, dalam keadaan hidup demikian itu sang suami meninggal dunia. Sejak itu otomatis segala tanggungjawab yang selama ini diselesaikan bersama suami harus dipikulnya sendiri. Sebagai perempuan melanjutkan pekerjaan sebelumnya, mencari kayu bakar keluar masuk hutan tentu menjadi petimbangan berat baginya tanpa didampingi suami. Hingga pada akhirnya ia memutuskan ikut bekerja memunggut dan memulung batu bara bersama puluhan perempuan lainnya.

Akhirnya kami sampai juga, kesempatan itu tentu kami gunakan untuk tahu lebih banyak tentang berbagai latar belakang mereka. Kami sempat berbincang-bincang dengan Emiyati dan Jhun Sarli suami istri yang terjun menggekuti pekerjaan memulung batubara. Orang Payakumbuh ini tinggal di Sijantang Talawi Kota Sawahlunto. Kami tingga dirumah bekas bangunan Bulando, yang sudah 45 tahun tidak dihuni, lalu kami tempati dan tinggal disana (Kami tinggal dirumah bekas bangunan Belanda yang sudah 45 tahun tidak dihuni, kemudian kami tempati dan tinggal disana). Itulah strategi yang ia terapkan untuk menekan pengeluaran daripada mengontrak rumah. Disela-sela waktu kedua suami istri ini sewaktu-waktu berprofesi juga sebagai pedagang dadakan. misalnya dengan membeli buah-buahan dan hasil kebun lalu ia jual lagi. tidak ada pekerjaan yang tetap. Dari sekian banyak urusan berdagang itu, memulung batu bara merupakan rutinitas setiap hari. bagaimanapun juga hampir setiap hari ia tetap pergi memulung batu bara karena hasilnya lumayan buat meringankan biaya hidup sehari-hari. Apalagi ia melakukannya berdua suami. Batu bara yang diperoleh pun bisa dapat 4 sampai 6 gerobak sehari, kalau sedang banyak tanah galian yang dibuang ia bisa memperoleh 8 sampai 10 gerobak sehari.
Lain lagi dengan apa yang dijalani ibu Aswati. Sebelumnya ia bekerja mencetak  batu bata dengan upah cetak per batu bata hanya Rp.45,- s/d Rp. 65,-. Dalam sehari ia mampu mencetak bata lebih kurang 400 buah. Namun, melihat peluang perolehan penghasilan lebih dengan memungut batu bara ia beralih pekerjaan. Penghasilan mamuluang batubaro labiah banyak dari pado makan upah mambuek bata (Penghasilan memulung batubara lebih banyak daripada makan upah membuat bata). Demikian Asmawati mengungkapkan kenapa ia lebih memilih pekerjaan memulung batubara ketimbang pekerjaan sebelumnya.

Halimah 55 tahun, perempuan tua yang mestinya menikmati hari tua dirumah bersama anak-anak dan cucunya. Kenyataan berkata lain, ia menghabiskan hari tuanya ditengah dunia tambang. memilih bekerja sebagai pemulung karena suaminya sudah tua dan sakit-sakitan. Sehari-hari suaminya hanya dirumah melepas Halimah pergi mengadu nasib memulung batubara, menunggu hingga kembali pulang sore menjelang magrib.  Sementara anak-anaknya 4 orang semua sudah tidak bersamanya karena ikut dibawa suami.

Halimah perempuan senja, seperti diantara teman lainnya juga tidak punya pilihan lain, memulung batubara merupakan pilihan pekerjaan yang dapat ia lakukan karena dapat menghasilkan uang hampir setiap hari. Sesekali ia bekerja makan upah dilahan pertanian orang, itu pun kalau ia diajak seperti  menanam atau memotong padi dengan upah per harinya Rp.25.000,-. Pekerjaan itu tentu tidak dapat ia lakukan setiap hari, paling hanya ketika ada musim tanam dan musim panen padi. Karena itu lah untuk pekerjaan diluar hari-hari itu Halimah hanya bisa memulung batubara. Katanya sambil bercanda, sawah lai banyak, tapi sawah urang sadonyo (sawah memang banyak, tapi semua punya orang).

Sehabis sholat subuh , Halimah sudah memulai aktivitasnya dengan membereskan rumah dan memasak, baik yang untuk ia bawa dan untuk suaminya di rumah. Dari tempat tinggalnya di Salak Sawahlunto, Halimah berjalan kaki menuju tempat ia memulung lebih kurang 1 jam perjalanan. Kadang ia dapat tumpangan kalau ada truk yang menuju tempat yang ia tuju. Kadang naik angkutan roda dua ojek yang mengantarkannya sampai lokasi dengan upah Rp.8.000,-. Jika ibu Halimah naik ojek pulang-pergi mengeluarkan uang Rp. 16.000,-. Sementara jika hasil memulung batubara yang diperoleh hanya 2 atau tiga gerobak tentu bu Halimah dapat uang bersih hanya Rp.18.000,-sampai Rp. 42.000,-. Sisa dari ongkos itulah untuk membeli kebutuhan hidup ia dan suaminya sehari-hari. Karena itulah bu halimah memilih berjalan kaki menunju tempat memulung dan berangkat lebih pagi.

Meskipun ada bantuan-bantuan pemerintah untuk penanggulangan kemiskinan, tapi kenyataan membuktikan bahwa bantuan itu tidak sepenuhnya sampai pada orang tidak mampu seperti bu Halimah. Seseorang yang kami wawancarai mengatakan, Ia (bu Halimah) memang tidak mau meminta, tapi dia itu orang susah dan suaminya sakit-sakitan, hanya bu Halimah yang bekerja. Itulah kalau ada bantuan-bantuan itu siapa yang meminta dan dekat dengan pihak yang menangani itulah yang dan meskipun ia pada dasarnya mampu. Itu lah ! tolong sampaikan kepada pemerintah kasihan kita melihatnya sudah tua. Sesungguhnya bekerja seperti ini tidak dibolehkan oleh perusahaan, disini berisko dan penuh bahaya, tapi bagaimana kita mau melarang mereka. Perempuan-perempuan itu mencari hidup dari sini. Seperti yang diungkapkan pak Junardi Humas perusahaan tambang tempat perempuan memulung batubara.

Perempuan setengah baya yang hanya menempuh pendidikan Sekolah Dasar juga bekerja memulung batu bara. Penghasilan suaminya dari pekerja upahan, menggali batu bara ditambang rakyat tidak mencukupi untuk membiayai keperluan keluarga. Apalagi ke 4 orang anaknya sudah sekolah. Rp. 30.000,-  tiap pagi harus ia keluarkan untuk anak yang duduk sekolah tingkat menengah atas. Ia terpaksa mengeluarkan ongkos lebih mahal karena  letak sekolah cukup jauh dari tempat tinggal. Yulia juga mesti mengeluarkan biaya untuk tiga orang anaknya yang lain, disamping untuk biaya ia dan suaminya serta kebutuhan sehari-hari rumahtangga lainnya.

Seperti teman-teman pemulung  lainnya, Yulia pagi-pagi sudah membereskan pekerjaan rumahtangga menyiapkan kebutuhan suami dan anak-anak dari sebelum berangkat sekolah. Sedangakan untuk makan anak-anaknya pulang sekolah sudah disediakan dari pagi. Yulia tidak perlu pulang, anak-anak bisa mengambil makanannya sendiri, kata Yulia.
Kalau Yulia harus pulang siang mengurus anak-anak pulang sekolah, tentu begitu banyak waktu yang tersita sehingga batubara yang akan diburu tidak akan mencapai hasil yang cukup. Apalagi Yulia sepulang dari memulung, menjelang magrib mesti bersiap-siap untuk menemui anak-anak asuhnya mengaji disurau. Ia merasa bertanggungjawab terhadap anak-anak sekitarnya untuk tetap tahu agamanya, untuk Yulia dengan iklash menjalani tugas yang dipercayakan masyarakat sekitar tempat tinggalnya. Kalaupun ada penghasilan dari mengasuh anak-anak agar bisa mengaji, tidak lah bisa diharapkan dan ditakar besaran jumlahnya.

Juliar akrab dipanggil Sijuh oleh teman-teman seprofesinya, datang dari Lumindai daerah pinggiran Kota Sawahlunto. Sijuh sebelumnya berdagang hasil pertanian bersama suaminya. Tapi sejak suaminya meninggal dunia 2 tahun lalu, pekerjaan itu tidak lagi bisa ia lanjutkan. Karena selama ini ia hanya bantu suaminya.
Sijuh kemudian memutuskan pergi memulung batubara di Guguak Tinggi sekitar kawasan penambangan batu bara menuju Parambahan. Letak Lumindai daerah asalnya boleh dibilang dipinggir kota, kendaraan umum pun tidak mau masuk karena medan yang berbukit-bukit terjal dan turun naik. Kalaupun ada Cuma angkutan roda dua (ojek). Kalau naik ojek Sijuh mesti mengeluarkan ongkos Rp. 20.000,-, pulang pergi berarti Rp. 40.000,-. Sementara ia hanya mampu berpacu mengumpulkan batu bara 2 sampai 3 gerobak dengan harga jual berkisar Rp.17.000,- s/d Rp.18.000,-.
Karena itu Sijuh bersama teman-teman dari daerah asal yang sama, memilih numpang tinggal didaerah sekitar lokasi. Kemudian setiap minggu ia pulang melihat dan mengantarkan kebutuhan anak-anak dan cucunya. Sijuh mencari uang dari hasil memungut batu bara tidak hanya untuk dirinya, anak  tapi juga untuk 3 orang cucunya yang ayahnya juga sudah meninggal.

Pertengahan Juli tahun 2008 lalu,Sijuh mengalami nasib buruk. Ia mengalami kecelakaan saat sedang memulung. Ketika Sijuh sedang asyiknya mencongkel-congkel tanah untuk memperoleh batubara yang tertimbun. Tiba-tiba tanah dan bebatuan diatas longsor dan ambruk. Tangan Sijuh tertimpa longsoran tanah dan batu, sehingga mengakibatkan tangan Sijuh terkilir dan membengkak. Ia hanya berobat ke tukang urut. Selama satu minggu, Sijuh sama sekali tidak bisa bekerja memulung batubara.

Dalam keadaan tidak bekerja seperti itulah beban hidup semakin dirasakan Sijuh, seperti juga teman pemulung lainnya. Kalaupun ada sedikit simpanan, itulah yang jadi tempat mengadu, kalau tidak ya minjam dengan berhutang nanti dibayar ketika sudah sehat dan kalau sudah memulung lagi.

Yulinar, meskipun punya suami tapi harus juga bekerja memulung batubara. Suami Yulinar hanya seorang petani kecil. Itu pun sudah tidak bisa bekerja keras karena tangan suami cacat terluka kena parang/golok sehingga menyebabkan urat tangannya terputus. Meskipun sembuh tapi tidak lagi seperti biasanya. Yulinar bersama suaminya memang punya sedikit lahan pertanian, tapi hasil pertanian kan tidak dapat diperoleh setiap hari, Yulinar menyela saat kami singgung daerah Lumindai daerah perbukitan yang banyak lahan. Karena desakan kebutuhan sehari-hari keluarga yang tidak dapat ditunda-tunda Yulinar bersama beberapa teman lainnya sesama dari Lumindai memulung dan sekali seminggu pulang melihat dan mengantarkan uang untuk belanja kebutuhan keluarga.

Untuk mengurangi pengeluaran, saat pergi kerja ia berangkat lebih pagi dengan berjalan kaki,kalau ada kebetulan truk lewat dan sopirnya mengerti dan baik hati akan ditumpangi, kalau tidak berjalan kaki hingga sampai lokasi memulung. Perjalanan bisa mencapai 1 jam.

Perempuan malang yang ditinggal begitu saja oleh suaminya yang kembali kerumah orang tua dan keluarganya. Sekarang Dasimar harus membanting tulang sendirian untuk menghidupi 7 orang anak-anaknya. Dasimar mengikuti jejak kakaknya Yulinar untuk mengais rezeki dengan memulung batubara. Ia terpaksa meninggalkan anak-anaknya dirumah. Dasimar juga tidak mungkin pulang setiap hari ke daerah asalnya di Lumindai. Padahal daerah tersebut tidak begitu jauh dari lokasi. Hanya saja membutuhkan biaya besar untuk  sampai kesana. Kalau saja itu dilakukan Dasimar harus mengeluarkan ongkos ojek Rp. 40.000,- pulang-pergi. Sementara batu bara yang mampu ia kumpulkan hanya 2 gerobak dan paling banya 3 gerobak sehari. Itu pun kalau tanah pembuangan galian dari perusahaan tambang banyak. Kalau tidak ada mengumpulkan setengah atau satu gerobak saja sulit.

Saat temui Emi tidak banyak bicara, ia hanya menjawab tuntas dengan penjelasan tidak ada pekerjaan lain yang bisa memperoleh uang setiap hari untuk membeli kebutuhan keluarga. Suami bertani. Selama ditinggal anaknya tinggal dirumah bersama suami. Satu kali seminggu Emi pulang melihat dan mengantarkan uang hasil memulung untuk belanja kebutuhan keluarga

Memulung batubara adalah pekerjaan yang sangat menguntungkan tentu dalam beban dan tekanan hidup yang mereka hadapi. Pekerjaan ini jelas memberi inkam pendapatan lebih untuk keluarga. Kasus perempuan ini justru memperlihatkan peralihan pekerjaan evolutif progresif, berubah dari pencari kayu api di hutan ke pemulung batubara. Keterlibatan perempuan dalam pengumpulan sisa-sisa batubara yang ditambang ternyata membuyarkan anggapan umum yang terdapat di berbagai negara tentang marginalisasinya peranan perempuan dalam ekspoitasi penambangan. Demikian Erwiza Erman mengulas dan berpendapat sebagai seorang peneliti yang konsentrasi penih terhadap dunia pertambangan dan aksesnya ketika fenomena ini pada suatu kesempatan saya komunikasikan.

Catatan: 
Tulisan ini pernah dimuat pada BULLETIN Sahabat Museum 
Kota Sawahlunto Edisi 01, Tahun I 2009. Rekaman Audio-Visual dapat juga dilihat di facebook saya atau klik salah satu link http://www.malaystudio.blogspot.com

No comments:

Post a Comment

Senang dengan komentar, tanggapan maupun saran Anda. Terima Kasih