WISATA SEJARAH TAMBANG:

MENELUSURI JEJAK TAMBANG BATUBARA OMBILIN SAWAHLUNTO

Pergilah ke Sawahlunto, bagi anda yang hobi melancong atau para peneliti dan yang suka menemukan hal lama tapi baru terkuak dari satu tempat ke lain tempat. Bagi anda yang sekedar ingin tahu ada apa disuatu tempat, tak ada ruginya singgah ke kota yang dulu dikenal lumbung batubara dengan kwalitas terbaik di negeri ini. Banyak hal tersimpan di kota kecil yang berada di propinsi Sumatera Barat, Indonesia. Meskipun kecil, jangan salah, disini sumber  batubara dengan kwalitas terbaik di Indonesia.
Sumber Foto:http://wikimedia.org
Buktinya sejak dibuka dan diekploitasi Pemerintah Kolonial Belanda lebih dari 120 tahun lalu, sampai sekarang “emas hitam’ itu masih saja memberikan kehidupan bagi kota ini, meskipun skalanya tidak seperti dulu lagi. Wajar saja karena sumber daya alam ini tidak terbarui, bukankah begitu?. Begitu pula dengan potensi sejarah, budaya kota ini jauh lebih besar melintasi batas-batas administratif. Kota ini terletak di lembah antara cekungan perbukitan sehingga menyerupai sebuah kuali. Makanya disebut juga ‘kota kuali’ sekali waktu. 
Satu sudut dari kota ini, sejarah penemuan batu bara hingga ekploitasi dapat dijadikan titik tolak dan gerbang masuk mengenal seluk beluk kota ini lebih jauh. Tanpa penemuan serpihan batu bara di tahun 1867 oleh seorang geolog Belanda Ir. W.H De Greeve saat ekspedisinya mengarungi aliran Sungai Batang Ombilin. Entalah, apa bentuk dan jadinya daerah belantara Sawahlunto sekitarnya. Disana mulanya hanya ada persawahan dan ladang penduduk sekitar. Jika malam hari mereka kembali ke perkampungan tempat tinggal mereka seperti Kubang, Lunto atau Silungkang misalnya. 
Pelabuhan Telukbayur (Emmahaven) 
Padang Kala Lampau
Sumber: ANRI, 
Doc. Museum Goedang Ransoem
Kandungan “emas hitam” batu bara, benar-benar telah menggoda dan mengundang banyak minat, terutama Pemerintah Hindia Belanda untuk mengeruk batubara dari bumi Sawahlunto, kemudian dijual ke pasar dunia untuk meraup keuntungan. Maklumlah, masa itu zamannya teknologi uap sedang berkembang dengan pesatnya akibat revolusi industri dari temuan mesin uap. Batubara menjadi primadona sebagai sumber energi andalan bagi ketel-ketel uap yang akan menggerakan berbagai mesin industri, pabrik-pabrik yang menggunakan mesin uap, transportasi laut kapal uap, lpkomotif uap kereta api, bahkan pemanas ruangan di Eropa sana.
Wajah belantara Sawahlunto pun bermetamorfosis sejak saat itu. Berbagai infrastruktur  pendukung aktivitas pertambangan pun satu persatu bermunculan. Sampai hari ini kita masih dapat menyaksikan jalur rel kereta api misalnya dari Teluk Bayur yang dulu dikenal Emmahaven sampai ke Sawahlunto. Penuh nostalgia rasanya perjalanan wisatawan ke kota wisata tambang Sawahlunto ditempuh dengan perjalanan menaiki kereta api dari kota Padang. Angkutan kereta api wisata yang bermarkas di Simpang Haru, sekarang melayani rute Padang-Pariaman dan Padangpanjang-Sawahlunto. Mengawali keberangkatan dari Emmahaven (pelabuhan laut Teluk Bayur) tentu saja suatu perjalanan yang utuh dalam sebuah rangkaian wisata tambang Sawahlunto. Betapa tidak, pembangunan Emmahaven, jalur kereta api dan  eksploitasi batubara dengan segala infrastrukturnya di pusat penambangan Sawahlunto merupakan satu rangkaian yang tak terpisahkan. Tidak berlebihan jika disebutkan pembangunan pabrik semen Indarung Padang menjadi matarantai dari proyek besar Emmahaven, jalur kereta api dan tambang batubara itu sendiri
Sayang sekali saat sekarang, indah dan romantisnya perjalanan wisata yang lengkap dengan menaiki kereta api dari Padang-Sawahlunto jadwalnya masih terbatas. Sabtu-Minggu dan hari-hari khusus seperti saat Ulang tahun atau Hari Jadi Kota Sawahlunto kereta api regular menjambangi lintasannya hingga ke kota ‘arang’. Memang perjalanan kereta api wisata regular diluncurkan hingga rute Padangpanjang-Sawahlunto, itu pun terjadwal pada hari Sabtu dan Minggu kecuali ada rombongan. Harap dimaklumi sejak produksi batu bara mengalami kemerosotan yang sangat tajam beberapa tahun belakangan si “ular besi hitam” itu tidak lagi meliuk-liuk sepanjang lintasan rel Padang-Sawahlunto.
Meskipun demikian, wisatawan tidak perlu kecewa. Sesampai di Sawahlunto semua kekecewaan itu akan sedikit terhapuskan dengan melakukan perjalanan dengan kereta api lokal Sawahlunto. Tidak tanggung-tanggung kita akan menikmati tumpangan penuh kesan romantisme dengan kereta api wisata (train nostalgia) E1060. Sebuah kereta api yang ditarik lokomotif uap seri E1060 buatan Jerman. Lokomotif nan eksotik, penuh nilai sejarah. Kemana lagi kita di nusantara ini dapat menikmati perjalanan dengan keretapi api uap beerbahan bakar batubara. Untuk sekarang jawabannya tentu ya.. kalau tidak di Sawahlunto Sumatera Barat ya... ke Ambarawa Jawa Tengah. Kereta api wisata yang dijuluki ‘Mak Itam’ ini senantiasa siap mengajak wisatawan menikmati perjalanan melintasi rel sepanjang Muarokalaban-Sawahlunto yang berjarak lebih kuarang 12 km pulang pergi. Dalam perjalanan itu lokomotif uap akan membawa penumpang masuk perut bumi menembus terowongan sepanjang +875 meter. Jalur itu tentu mengingatkan pada kondisi ditahun 1892-1894 saat jalur itu dibangun oleh para pekerja paksa yang bekerja dibawah kerasnya tantangan alam dan tekanan penguasa Hindia Belanda. Mereka adalah pribumi, bangsa kita yang dipaksa dalam ketidak berdayaan untuk bekerja sepenuh perintah kaum penjajah. Diantara mereka kemudian hari ada yang dikenal dengan sebutan orang rantai.
Setelah keluar dari mulut terowongan, lebih kurang 500 meter sebelum melewati jembatan kereta api berdiri megah Mesjid Raya kota Sawahlunto dengan menaranya menjulang setinggi +75 meter dengan diameter 3 meter. Tempat berdirinya mesjid itu dahulunya merupakan bangunan Pembangkit Listrik  Tenaga Uap (PLTU) pertama yang dibangun tahun 1894 dengan memanfaatkan aliran air Batang Lunto. Sedangkan menara mesjid itu adalah cerobong asap dari pembakaran batubara pada pembangkit listrik. Listrik itu untuk kepentingan aktivitas tambang batubara dan bagi kehidupan kota. Kemampuan penyediaan daya listrik serta debet air Batang Lunto yang tidak lagi memadai mengakhiri pengabdian pembangkit listrik untuk menopang kegiatan pertambangan. Hingga kemudian dibangun sentral listrik Salak di tahun 1924.
Dimasa revolusi kemerdekaan RI bekas PLTU itu dijadikan gudang dan perakitan senjata baik ketika dibawah penguasaan tentara Belanda, Jepang maupun pejuang Indonesia yang berada di Sawahlunto. Di tahun 1952 pada bekas bangunan induk PLTU yang megah itu didirikan tempat ibadah umat muslim kota Sawahlunto. Sedangkan ruang bawah tanahnya ditimbun dan ditutup rapat dengan beton.
Ketika kota Sawahlunto menjelmakan diri menjadi Kota Wisata Tambang Yang Berbudaya seperti yang diamanahkan visi dan misi kota sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Daerah Nomor. 2 Tahun 2001. Mau tidak mau sejarah peninggalan pertambangan batubara melalui penelusuran jejak yang masih tertinggal maupun  yang tidak jelas keberadaannya kembali digali. Untuk kepentingan itulah bulan April tahun 2005, ruang bawah tanah (bunker) yang tepat berada dibawah Mesjid Raya kota Sawahlunto dilakukan penggalian. Hasil penggalian itu sungguh membuktikan kepada kita akan cerita dan kisah dalam ingatan kolektif para tetua masyarakat pendahulu di Sawahlunto. Bunker itu begitu luas dan besar dengan lorong-lorong dan ruang-ruang seperti sebuah labirin. Sungguh mengasyikan dan merupakan tantangan utuk menguji nyali menelusurinya. Ketika penggalian demi penggalian berjalan terus ditemukan berbagai senjata dan perlatan perang seperti mortir, granat, senapan dan pistol rakitan, pelontar dan bagian potongan senjata mesin yang belum selesai. Seperti yang banyak diungkapan para tetua Sawahlunto. Tempat itu dulu ketika zaman bergolak dijadikan gudang dan tempat perakitan senjata sejalan dengan bengkel utama perusahaan tambang.  Temuan itu jelas merupakan bukti nyata segala penuturan masyarakat itu. Kini semua temuan itu tersimpan baik di musuem kota Sawahlunto. Namun belum bisa disajikan untuk publik karena berbagai pertimbangan dan kondisi tentunya. Demikian juga halnya dengan ruang bawah tanah mesjid yang belum juga terkelola dengan baik, maka untuk saat belakangan juga tidak dijadikan objek dan rangkaian kunjungan wisata situs. Namun sekedar ingin menyaksikan keberadaannya tentu tidak ada halangan, toch... letaknya berada dilingkungan mesjid tepat dibawahnya lagi.
Mmmhhh...!!! lelah menelusuri lorong-lorong ruangan bawah tanah mesjid, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan menuju setasiun +100 meter dari bekas PLTU. Disini wisatawan dapat beristirahat sambil melepas lelah dengan menyaksikan benda-benda koleksi Museum Kereta Api. Wah...!!! wah ....!!! ini bukan sekedar setasiun tempat turun naik penumpang atau parkir kereta api wisata saja, tapi juga sekaligus museum. Museum kereta api Sawahlunto merupakan  Museum Kereta Api kedua di Indonesia setelah Ambarawa Jawa Tengah. Apalagi kehadiran dan kiprah ‘Mak Itam’. Kereta api wisata yang ditarik dengan lokomotif uap E1060 ini berbahan bakar batubara telah melengkapi setasiun dan museum kereta api Sawahlunto segala kejadulan perkereta apian di Sawahlunto. Suasana seperti itu tentu saja disengaja untuk mengingatkan pada masa lampau, masa pengabdian lokomotif uap ketika di Sumatera Barat, Sawahlunto khususnya pemicu segalanya dari matarantai kepentingan kolonial di Minangkabau.
Berdiri mengahadap ke Timur didepan Stasiun atau Museum Kereta Api terdapat pasar “oesang” yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda tahun 1910. Pasar itu sekarang sudah berganti nama Pasar Remaja. Nah... diantara tebaran bangunan sekitar wilayah pasar dan sekitarnya itu adalah apa yang sekarang disebut kota lama/tua Sawahlunto. dengan sedikit menuruni anak tangga untuk melewati jalan pintas dengan berjalan kaki dari museum kereta api. Sembari berkeliling kota mencari makanan dan oleh-oleh khas daerah ini seperti kerupuk kubang dan kerupuk tempe atau hasil kerajinan tenun Silungkang yang terkenal itu, wisatawan dapat menikmati romantisnya kota lama/tua Sawahlunto melalui bangunan-bangunan tua dengan corak dan arsitektur Indisch dan Pecinaan. Sebutlah bangunan bekas rumah dinas Controleur zaman Belanda persis di kelok “S” diseberang pasar atau depan Mesjid Raya. Sekarang bangunan kolonial menjadi rumah kediaman walikota. Bagi anda yang pernah dan akan menjadi tamu daerah, dijamu disini dengan berbagai makanan khas daerah seperti dendeng batokok, bubur kampiun, soto dan dihibur dengan berbagai kesenian daerah yang multi etnik.
Mengikuti arus lalu lintas ke Utara wisatawan masih dapat menikmati deretan bangunan tua bergaya kolonial seperti bekas kantor pos dan pengadaian yang begitu terkenal dimasa lalu. Dari sini + 50 meter terdapat rumah Fek Sin Kek yang sangat kental dengan asitektur Pecinaan. Di bangunan tua dengan arsitektur dan konstruksi yang menawan ini, pelancong dapat berbelanja souvernir shop sambil berfoto untuk mengabadikan kenangan. Tepat didepan rumah Pek Sin Kek berjejer bangunan kolonial, salah satunya dulu sebagai koperasi karyawan tambang batu bara Ombilin dan disebelahnya terdapat Gereja Katolik dan sekolah St. Lucia. Coba perhatikan pada atapnya nan khas bertingkat dan terdapat dormer sebagai sistim sirkulasi udara yang menarik.  Di batasi dengan jalan, didepan gereja terdapat bangunan Hotel Ombilin juga berarsitektur Indisch. Anda bisa menginap disini, sebuah hotel yang terletak dipusat kota. Sementara dibelakangnya berjejer bangunan yang dapat dipastikan dulunya merupakan hunian petinggi-petinggi Belanda di Sawahlunto. Bangunan itu merupakan bagian dan satu kesatuan dengan Hotel Ombilin. Rasakan saja bagaimana menginap disebuah hotel dengan bangunan tua dari masa Hindia Belanda.   Perisi didepan hotel Ombilin, berseberangan jalan berdiri kokoh dan megah gedung pertunjukan yang dikenal dengan gedung societeit dibangun tahun 1918. Inilah  tempat berpestanya para pejabat-pejabat dan none-none Belanda setelah penat beraktivitas mengurusi tambang. Gedung itu pernah juga ditempati Bank Mandiri dan sebelumnya sebagai gedung pertemuan masyarakat (GPM). Mulai tahun 2006 gedung ini kembali difungsikan sebagai Gedung Pusat Kebudayaan (GPK) kota Sawahlunto. Tempat yang diproyeksikan untuk pertunjukan  dan pagelaran berbagai kesenian dalam upaya menopang kegiatan kepariwisataan di kota ini.
Gedung Societeit GPK
Didepan gedung societeit berbatasan sungai berderet bekas rumah-rumah para pejabat Belanda dan di depannya terdapat kantor perusahaan tambang Ombilin sekarang sebagai kantor PT. BA-UPO. Ruang publik pada area  gedung yang megah sebagai landmark kota itu saat ini dilengkapi dengan taman-taman dan lampu hias, sehingga cocok untuk bersantai bersama keluaraga, apalagi sarana dan prasarana bermain anak-anak.
Wah…tidak lengkap rasanya tanpa meneruskan perjalanan ke Air Dingin bekas kawasan pemukiman para buruh tambang. Lokasi itu tidak jauh dari landmark kota, hanya dengan menelusuri jalan disamping bangunan megah kantor PT. BA-UPO, menyeberangi sebuah jembatan yang melintas diatas sungai Batang Lunto, sesaat sampailah kita di tanah Lapang dan Air Dingin. Sebuah gambaran kawasan, tempat tumbuh kembangnya kultur masyarakat tambang multi etnis. Disana ada sebuah Museum lagi namanya Museum “Goedang Ransoem”. Nama yang agak aneh kedengarannya. Ada baiknya tour napak tilas wisata tambang kita lengkapi singgah ke Info-Box Galeri Tambang. Disini informasi sejarah dan teknis penambangan dapat diperoleh hampir utuh. Berbagai koleksi peralatan tambang manual tempo dulu dapat disaksikan. Dilengkapi berbagai gambar untuk lebih mudah memahami informasi dunia tambang. Berbagai jenis bebatuan yang dikenal dalam penambangan juga hadir dihadapan kita. Nah..... !! untuk lebih meyakinkan wisatawan boleh masuk ke sebuah lobang tambang tua peninggalan penambang periode awal masa kolonial. Lobang tambang Soegar dan kemudian disebut lobang tambang Mbah Soero dapat dimasuki dengan aman dan nyaman karena sudah direvitalisasi dan disesuaikan bagi kebutuhan dunia wisata. Kita selama ini mungkin banyak penasaran seperti apa batubara didalam perut bumi itu. Tanda tanya seperti itu akan terjawab begitu masuk dan berjalan dalam lobang tambang yang dinding dan atapnya terhampar batubara yang masih alami. Tidak perlu khawatir wisatawan akan dipandu sepanjang terowongan yang hanya dibuka sepanjang lebih kurang 150 meteran saja. Keberadaan pengunjung juga diamati petugas lainnya diruang pantau melalui layar CCTV.
Tidak jauh, berkisar seratus meteran ke Air Dingin kita akan lanjutkan perjalanan ke Museum Goedang Ransoem yang kita maksud tadi. Bangunan yang ditempati sebagai museum itu merupakan komplek bekas dapur umum tambang batubara. Cita-cita pembangunan komplek Dapur Umum modern di Sawahlunto sejak tahun 1894. Namun baru terwujud tahun 1918 setelah dipicu berbagai kekisruhan soal makanan buruh yang terus berulang terjadi dari waktu ke waktu. Kekisruhan muncul dari kompleksitas persoalan. Mulai dari soal korupsi pejabat hingga level petugas pelaksana dilapangan. Belum lagi buruh yang rata-rata merupakan orang-orang bermasalah. Para kejahatan kriminal dan tahanan politik dengan segala huru-hara dan keberingasan sesama diluar dan dalam tambang. Merebut makanan yang lain, tentu akan memicu hal yang sama pula sebagai aksi pembalasan.
Kondisi itu memaksa perusahaan mengambil sikap mengambil alih pengelolaan makanan buruh dari kontraktor sebagai pihak ke tiga dengan membangun dapur umum modern berteknologi canggih dengan sistim memasak dengan tungku uap (steam generator). Dapur besar dengan peraltan masak seba ‘raksasa’ dioperasikan untuk menyiapkan makanan dalam jumlah besar. Ini merupakan jawaban dari kekisruhan dan problematika seputar makanan bagi pekerja tambang selama waktu-waktu berlalu. Bangunan dapur umum ditempatkan di tengah tangsi baru kelurahan Air Dingin. Bangunan ini disebut juga dengan rumah ransum yang dipergunakan untuk memasak makanan bagi para buruh tambang  dan keluarga yang berjumlah ribuan. Oleh karena itu, disana disiapkan pula dapur beserta peralatan yang serba besar seperti tungku, periuk dan sebagainya. Dari dapur ini di persiapkan masakan sebanyak 65 pikul beras setiap hari.
Sebuah prestasi dan kebanggaan dapat kita saksikan disini, dimana pemanfaatan kemajuan teknologi dalam sistem memasak berskala besar sudah hadir di Sawahlunto sejak awal abad ke-20 bahkan yang pertama di Indonesia masa itu. Hal ini dapat dilihat dari setiap bagian bangunan dan peralatan yang digunakan. Disini tidak hanya terdapat dapur tempat memasak saja, juga terdapat beberapa bangunan yang memiliki fungsi yang berbeda, namun merupakan satu kesatuan utuh   yang saling mendukung satu sama lain. Diantara  bangunan-bangunan tersebut adalah: Bangunan utama (dapur umum), gudang (warehouse) persediaan bahan mentah dan padi, , power stoom (Tungku Pembakaran) berjumlah 2 buah, Menara cerobong asap,  pabrik es batangan, hospital, kantor koperasi tambang batubara Ombilin, Heuler (penggilingan padi), rumah kepala ransum, rumah karyawan, pos penjaga, rumah jagal hewan, hunian kepala rumah potong hewan. Bangunan itu menjadi saksi bisu yang menyimpan banyak peristiwa tentang korupsi dari para pejabat/pegawai administrasi Eropa, para supplier Cina dan para tukang masak pribumi. Dari dapur ini para buruh berebutan untuk mendapat pembagian makanan yang dibagikan oleh staf perusahaan. Pada masanya, dapur umum itu berfungsi sebagai tempat melayani kebutuhan makan para:
  1. Orang hukuman, lebih dikenal sebagai orang rantai  yang dipekerjakan dipertambangan batubara sekitar Sungai Durian,Waringin, Sawah Rasau Lima, Sikalang. Untuk orang rantai/orang hukuman jatah makan mereka diantarkan oleh petugas ke lokasi dimana mereka bekerja.  Pada masing-masing lokasi  kerja tesedia tempat beraktivitas pekerja tambang yang disebut sebagai gudang. Di gudang inilah pekerja mengambil jatah makan/nyadong
  2. Karyawan Tambang yang belum berkeluarga (bujangan) terutama mereka yang didatangkan jauh dari Belanda (Nederlands). Bagi pekerja yang masih bujangan mendapat jatah makan dari Dapur Umum bebas selama 6 (enam) bulan. Setelah masa enam bulan mereka dianggap sudah punya penghasilan/gaji, mereka mendapat pemotongan gaji.
  3. Buruh tambang yang sudah bekeluarga. Setiap buruh tambang yang sudah punya keluarga mendapat jatah makanan dari Dapur Umum ini sejumlah anggota keluarga mereka. Akan tetapi berbeda dengan yang lainnya, pekerja tambang yang sudah memiliki keluarga diberikan dalam bentuk bahan mentahnya saja.
  4. Pekerja dan pasien rumah Sakit Ombilin.
Museum Goedang Ransoem 

Bahkan orang kawalan juga mendapat jatah makanan dari Dapur Umum. Orang kawalan merupakan rakyat yang tidak mampu membayar  belasting/pajak kepada pemerintah   kolonial Belanda. Untuk  menebus pajak terhutang orang tersebut mereka diperkerjakan ditambang batu bara atau proyek pemerintah   kolonial Belanda. Mereka bekerja hingga nilai pekerjaan mereka sampai menutup pajak yang tidak mampu mereka bayarkan.

Sekarang bekas bangunan yang bernilai sejarah itu telah menjelma menjadi sebuah museum kota yang menyajikan benda-benda koleksi bekas peralatan dan perlengkapan dapur umum. Makanya koleksi seperti bekas periuk masak itu begitu besar dengan dengan ukuran diameter 132 cm hingga 148 cm dan tinggi 62 cm sampai 70 cm. Bahan periuk ketel terbuat dari besi hancuran dan nikel. Museum itu dibuka dan diresmikan 17 Desember 2005 lalu oleh Wakil Presiden RI Bapak jusuf  Kalla.
Petualangan kita belum selesai dan belum seberapa karena kita baru mengunjungi bagian-bagian dari prosesi tambang. Sementara seperti apa ekploitasi atau bekas-bekas ekploitasinya belum tuntas sama sekali kita tahu dan kunjungi. Tapi ada baiknya kita ke kawasan Saringan dulu, letaknya didepan landmark kota agak tinggi, disana ada tiga buah silo tempat pengumpulan batu bara sebelum dimuat ke kereta api untuk diangkut ke Padang. Di kawasan itu terdapat mesin-mesin pencucian batu bara (Sizing plant) dengan conveyor-conveyornya. Sebuah bengkel besar disebut juga bengkel utama tempat memperbaiki segala kerusakan peralatan dan perlengkapan penambangan, bahkan juga untuk merakit dan memodifikasi. Jangan heran kalau disini dapat disaksikan mesin bubut dalam berbagai ukuran type, mesin tempa dll-nya.
Kita langsung ke kawasan Cemara, disana ada bekas terowongan (tunnel) penggalian batu bara sejak zaman Belanda. Unik dengan dua karakter tunnel vertikal dan horizontal. Biasanya pada tunnel horizontal merupakan terowongan untuk maju atau mundurnya ekploitasi batubara. Ini merupakan terowongan transportasi dengan belt conveyor. Kawasan itu akan ditata sehingga layak untuk dikunjungi keluar masuk oleh wisatawan. Karenanya perencanaan dan pengerjaan yang matang sangat dituntut mulai dari sistem penyanggaan, kelistrikan, drainase, sirkulasi udara, perlengkapan keamanan pengunjung, tanda bahaya dan lainnya. Harapannya wisatawan di sini tidak hanya sekedar melihat dan masuk terowongan bekas penambangn batu bara, tapi akan dihadirkan juga museum tambang mini, istal kuda bagi yang berminat melengkapi petualangan dengan berkuda, dan sebuah kafe dan gallery tempat berbelanja juga akan melengkapi kawasan ini. 
Terowongan Simulasi  Tambang Dalam BDTBT
Bagaimana dengan lingkungan tambang batu bara di Sawahlunto ? kita lanjutkanlah perjalanan menuju arah Talawi daerah kelahiran maha putra M. Yamin. Sepanjang jalur itu dapat disaksikan proses ekploitasi dan pengolahan batu bara, tambang rakyat, dan keadaan lingkungan. Tapi sebelum kesana sebaiknya mampir dulu di Balai Diklat Tambang Batu Bara Bawah Tanah dulunya Ombilin Mining Training Centre. Dari sini berbagai pengetahuan tambang batu bara bawah tanah ditransformasikan kepada pelaku tambang melalui berbagai fasilitas dan teknologi mulai dari yang manual hingga high technology. Misalnya wisatawan dapat mengenali dan menikmati seperti apa seharusnya sebuah terowongan atau tunnel tambang batu bara bawah tanah, berbagai macam jenis bebatuan alam.
Perubahan lingkungan fisik yang fenomenal dapat disaksikan ketika memasuki Sawahrasau. Daerah ini merupakan pembukaan titik penambangan kedua setelah Sungai Durian sejak zaman Belanda. Lihatlah bukit-bukit yang menjulang tinggi dibolak balik hingga tak karuan bentuknya. Saksikan juga tambang rakyat yang jumlahnya puluhan bahkan ratusan. Terowongan-terowongan bawah tanah yang mereka buat hanya menggunakan peralatan seadanya, dan berpacu dengan perusahaan padat modal dalam meraih batu bara.
  Tidak berapa jauh dari Sawahrasau + 1,5 km belok kanan dekat persimpangan Parambahan, melewati sebuah jembatan yang melintasi sungai Batang Ombilin wisatawan dapat pula menyaksikan sebuah perubahan lingkungan dari dari sistim penambangan terbuka. Sebuah  bukit yang merupakan ladang batu bara telah menjadi sebuah danau. Kawasan Wisata Danau Kandi demikian sebuah tulisan yang terpampang pada gapura kawasan itu. Tempat itu memang sedang dikembangkan menjadi bagian objek wisata tambang Kota Sawahlunto. Fasilitas saat yang ini yang telah ada seperti cafe, tempat bermain anak-anak, rumah ibadah juga akan dilengkapi dengan perahu. Tidak jauh dari Danau Kandi ini terdapat arena pacuan kuda berskala nasional. Untuk menuju kesana sedikit menaiki perbukitan sambil melemparkan pandangan kiri-kanan melihat-melihat bekas-bekas penambangan maupun yang masih aktif dilakukan, tambang rakyat misalnya.
Mengintip penambangan batubara dalam skala besar di Parambahan oleh perusahaan seperti PT. BA-UPO di Sigalut, AIC, TMS dengan sistim tambang dalam menembus perut bumi membuat terowongan mesin dengan teknologi tinggi. Sungguh luar biasa dan menegangkan, kalau selama ini kita hanya melihat melalui media, tapi kalau sudah sampai disini kita bisa rasakan bagaimana rasanya suasana dalam terowongan bawah tanah yang disangga dengan arca-arca baja bagi keamanan manusia yang beraktivitas didalmnya. Sungguh berbeda tentunya kalau selama ini kita hidup dialam terbuka dan ruangan-ruangan bangunan rumah atau kantor, tapi kalau sudah masuk terowongan pengambilan batu bara berarti kita telah memasuki dan menjelah satu bagian dari dunia. Bayangkan anda berjalan dalam perut bumi dalam jarak ratusan meter bahkan berkilo-kilo meter dimana pada kiri-kanan, atas dan bawah terdapat batu bara yang dalam kondisi tersangga maupun dalam proses penambangan terutama pada bagian depan terowongan maju.