Teknologi Uap, Kereta Api Dan Kehadirannya Di Sawahlunto-Sumatera Barat

TEKNOLOGI UAP, KERETA API DAN KEHADIRANNYA
DI SAWAHLUNTO-SUMATERA BARAT

Sumber: Foto Elizabet. Doc. MgR
Penemuan mesin uap di Eropa Barat di abad ke 18 telah membawa perubahan dramatis untuk pembangunan berbagai industri berbasis tenaga uap. Mesin-mesin diciptakan dan diproduksi secara besar-besaran untuk berbagai kepentingan manusia diberbagai belahan bumi. Pada kereta api lokomotif uap dan kapal uap misalnya dirancang sebagai transportasi massal barang maupun penumpang didarat dan laut.
Teknologi mutakhir dieranya itu membutuhkan bahan bakar batubara atau juga kayu sebagai sumber energi. Periode teknologi uap memacu peningkatan cepat penggunaan batubara dalam berbagai jenis industri dan transportasi (kereta api dan kapal uap). Oleh karena itu tidaklah mengherankan bila pemakaian tenaga uap dan terkorporasinya batubara ke dalam pasar Internasional, telah membawa perluasan yang cepat dalam jaringan perdagangan dunia dan dalam pertumbuhan kapitalisme Barat.[1]
Penemuan teknologi baru dalam bentuk mesin uap itu telah mendorong banyak negara di dunia untuk mencari sumber-sumber batubara baru. Negara-negara di Asia Timur seperti Jepang dan Cina tidak mau ketinggalan dalam pembukaan tambang batubara dan jalur kereta api.[2] Pada abad ke 19 dan 20, Cina menjadi satu-satunya produsen batubara terbesar di dunia, sementara Jepang terbatas tidak hanya mengeksploitasi tambang-tambangnya sendiri di dlam negeri, tetapi juga begitu intensif memperluas usaha yang sama di Cina. Dinegara-negara Asia lainnya, seperti Vietnam, Malaysia dan Indonesia, pembukaan tambang batubara bisa jadi dipertimbangkan memberi sumbangan terhadap eksploitasi inperalisme dan kapitalisme Barat di negara-negara yang menjadi koloni mereka masing-masing.[3]
Permintaan batubara terus miningkat, tidak lagi penggunaannya sebatas pemanas ruangan pada musim dingin di negeri-negeri Eropa, memasak makanan dan untuk berbagai keperluan rumah tangga lainnya. Tetapi lebih dari itu adalah untuk keperluan berbagai. Jumlah batubara di konsumsi dalam skala besar oleh kereta api, kapal uap dan untuk berbagai jenis industri. Karena itu, sebelum penemuan minyak dan sumber bahan bakar lainnya, batubara berperan penting dalam mendukung berbagai kegiatan perekonomian.[4]
Serangkaian bukti telah  menunjukan pengaruh yang besar penggunaan batubara untuk perkembangan industri dan transportasi. Salah  satu contoh penting ialah eksplorasi ladang batubara yang baru dan pembangunan jalur kereta api di banyak negara. Misalnya Inggris yang merupakan salah satu produsen batubara terbesar di dunia, pembangunan rel kereta api pertama dari Stockton ke Darlington dalam tahun 1825, menghubungkan ladang batubara Durham dengan daerah pantai (Wolf 1982:291). Banyak negara lain seperti Perancis, Jerman dan Spanyol memberi cukup bukti ketertarikan mereka terhadap batubara. Selama abad ke-19, negara-negara ini intensif sekali mencari persediaan-persediaan batubara dan eksploitasinya. Penemuan sumber-sumber batubara baru bertepatan dengan pembangunan jalur kereta api.[5]
Di Hindia Belanda (Indonesia sekarang), cadangan batubara pertama di temukan di Penggaron, Kalimantan pada tahun 1848. Pertambangn di buka oleh Gubenur Jenderal J.J Rochussen dan dinamakan ”Orang Nassau”. Hampir seluruh produksi batubara dari tambang ini di gunakan oleh Angkatan Laut Belanda yang sedang berusaha menundukan Kerajaan Banjarmasin di Kalimantan Selatan. Meskipun, produksinya menjanjikan pada mulanya, akan tetapi usaha pemerintah Belanda untuk mengeksploitasi batubara di Penggaron boleh dikatakan gagal. Tambang yang di operasikan menggunakan tenaga kerja yang murah, sebagian besar buruh paksa dari Jawa dan Madura, akan tetapi biaya-biaya transportasi dari pusat produksi  ke pelabuhan, terlalu tinggi. Tambang ini memproduksi tidak lebih dari 80.000 ton saja.[6]
Gagalnya aksploitasi tambang di Penggaron Kalimantan tidak mengurangi semangat para geolog Belanda. Penelitian di tempat-tempat lain segera menyusul, dan bahkan hasilnya jauh lebih menguntungkan . Penelitian mereka khususnya di beberapa daerah di Kalimantan dan Sumatera. Rangkaian penelitian ini langsung membawa pembukaan sekurang-kurangnya dua tambang batubara lainnya yang dianggap penting di Kalimantan pada penghujung abad ini. Pertama tambang batubara yang di usahakan oleh perusahaan swasta Belanda, yaitu  Oost Borneo-Maatschappij yang beroperasi pada tahun 1882 (Lindblad 1985;182) dan kedua adalah tambang pulau laut yang awalnya dioperasikan oleh perusahaan  Swasta, kemudian diambil alih oleh pemerintah Kolonial Belanda (Baks 1989). Di Sumatera, W.H.de Greeve, seorang ahli geologi muda Belanda pada 1868, menemukan kandungan batubara di Ombilin dan melaporkan kandungan alamnya serta potensi ekonomi pada negara atau pemerintah pusat di Batavia. Laporan de Greve itu di publikasikan pada tahun 1871 dengan judul ”Het Ombilien-kolenveld iin de Padangsche Bovenlanden en het Transportstesel op Sumatra’s Weskust.[7]
Penemuan dan ekploitasi batubara Ombilin-Sawahlunto bagai gula-gula dan daya magnet dengan kekuatan luar biasa. Bagaimana tidak, batubara sumber daya energi yang diburu-buru itu memaksa teknologi uap Eropa itu haadir di Sawahlunto. Negeri yang hanya sebuah desa terpencil dan dikeliling belantara hutan. Sejak kepastian hasil temuan para geolognya, Pemerintah Kolonial mulai membangun jalan kereta api dan sebuah pelabuhan di Padang. Pembangunan jalan kereta api antara Pelabuhan Emmahaven (Teluk Bayur) dan Padang Panjang di bawah pengarahan insinyur Ijhzerman. Kemudian pada tahun 1892 ini disusul dengan pembukaan jalan kereta api antara Padang Panjang dan Muaro Kalaban. Seterusnya dibangun jalan kereta api yang menghubungkan Muaro Kalaban dan Sawahlunto dengan menembus bukit batu sepnajng hampt 1 Km (835 Meter) yang selesai pada tahun 1894. Dengan demikian pembangunan jalan kereta api sepanjang 155,5 km antara Teluk Bayur dan Sawahlunto selesai, dan pada tahun yang sama, pembangunan Pelabuhan Emma di rampungkan.[8]
Dengan selesainya jalur transportasi angkutan batubara, kereta api lokomotif dengan teknologi uapun mengambil peran utama dalam trasportasi batubara Sawahlunto-Emmahaven (Telukbayur) Padang. Masyarakat sepanjang lintasan yang dilalui kereta api pun dari keherannya menjadi terbiasa mendengar ‘garesoh-paresoh[9] kereta api yang lewat hilir mudik dengan muatan batubara. Sekali waktu kereta api dapt pula dinaiki karena juga melayani angkutan penumpang dan barang.
Selain kereta api lokomotif uap, juga hadir di Sawahlunto teknologi uap lainnya seperti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Kubang Sirakuak. PLTU yang dibangun pada tahun 1894 itu ditujukan sebagai pemenuhan kebutuhan energi listrik ditambang batubara dan bagi kehidupan Kota Tambang Sawahlunto dengan segala sarana pendukungnya yang membutuhkan listrik. Kita dapat bayangkan ditahun baheulak Sawahlunto sudah memiliki listrik dari tenaga uap. Aktivitas tambang yang semakin meningkat, mendorong Belanda menambah kapasitas listrik . PLTU ke-2 pun dibangun dikawasan Salak dipinggir batang Ombilin.
Kalau teknologi uap a yang diterapkan pada kereta api lokomotif uap, kapal laut uap, dan listrik tenaga uap (PLTU) barangkali sudah lazim dan bias kita dengar. Namun adalagi teknologi uap yang lebih fenomenal hadir di Sawahlunto yaitu, tekonologi uap yang diterapkan pada sistim memasak di dapur umum perusahaan tambang yang berlokasi di Air Dingin sekarang (Lembah Soegar dalam sebutan Belanda). Dapur umum yang dibangun tahun 1918 ini berada dalam satu komplek kawasan. Sebuah kemajuan teknologi memasak skala besar dapat kita jumpai jejak dengan kontras hingga hari di Sawahlunto. Bekas dapur umum dengan berbagai bekas peralatan memasaknya yang serba ‘raksasa’ masih dapat disaksikan disini sebagai benda koleksi Museum Goedang Ransoem Kota Sawahlunto yang di resmikan sejak lebih lima tahun lalu (17 Desember 2005) oleh wakil Presiden RI Muhammad Jusuf Kalla.


[1]Erwiza Erman., Membaranya Batubara: Konflik Kelas dan Etnik, Ombilin-Sawahlunto-Sumatera Barat (1892-1996). Jakarta: Desantra, 2005. Hal. 26
[2] Ombilien-kolenveld 1884;843., dalam, Ibid.,
[3]ibid
[4] ibid
[5]Ibid
[6]van Lier., dalam Erwiza Erman Ibid., hlm.28-29
[7]Erwiza Erman., Ibid., hlm.
[8]Erwiza Erman., Ibid, Hlm. 65
[9]Garesoh paresoh’ istilah lokal masyarakat Minang dalam menyebut efek bunyi dari berbagai perpaduan aktivitas kerja lokomotif uap yang terdengar asing mulai dari gesekan roda besi dengan rel besi dan bunyi yang ditimbulkan dari mesin dengan tekanan dari piston uap sehingga menimbulkan bunyi yang khas.

No comments:

Post a Comment

Senang dengan komentar, tanggapan maupun saran Anda. Terima Kasih