2353: ‘Jejak Terakhir Kettingganger’

2353:
‘JEJAK TERAKHIR KETTINGGANGER’

Judul diatas bukanlah judul sebuah novel, cerita pendek maupun bersambung, apalagi judul sebuah sinetron atau film layar lebar. Tapi ia bisa menjadi itu semua, karena banyak kisah tentang ‘manusia rantai’ yang hidup masa perbudakan buruh tambang batubara Ombilin di Sawahlunto pada era kolonial Belanda. Bila merujuk pada pembangunan infrastruktur penting tambang, terutama pembangunan jalur kereta api Emmahaven-Sawahlunto (1891-1894) dengan mengerahkan banyak tenaga paksa. Apa artinya? Para buruh paksa yang notabene sebagain besar kettingganger (orang rantai) dalam istilah Belanda, sudah ada sebelum tambang batubara Ombilin-Sawahlunto di ekploitasi. Bukankah tambang sendiri baru mencapai produksi pertamanya tahun 1891? Kemudian pengerahan para kettingganger itu baru dihentikan pada tahun 1938,[1] setelah berpuluh tahun dijalankan.
2353, juga bukanlah angka keramat atau nomor buntut. 2353 adalah sebuah angka yang terpahat pada sebuah nisan makam ‘orang rantai’. Nomor apakah gerangan yang terpatri pada nisan yang terbuat dari coran berbahan kerikil pasir itu? Beragam penjelasan dan interpretasi sampai pada dugaan karena sumber data sejarah sangat minim ditemukan untuk mejelaskan perihal nomor pada nisan makam orang rantai tersebut. Diantaranya menyebutkan nomor pada nisan tersebut adalah nomor register orang rantai semasa bekerja ditambang. Nomor register orang rantai itu sebagian dari mereka mencapkannya ke tubuh dekat bagian pergelangan tangan dengan mentatto bahkan dibuat menyerupai stempel/cap panas. Secara perorangan atau kelompok sesama teman kerja dan atau oleh perusahaan. Namun tertulis yang menjelaskan akan proses seperti ini tidak didapatkan. Kecuali dari cerita lisan para tetua pensiunan tambang, atau cerita turun temurun yang menjadi ingatan kolektif masyarakat.
Versi lainnya adalah itu, hanya merupakan nomor nisan biasa. Penomoran untuk kepentingan penyelenggaraan administrasi data perusahaan. Bisa juga benar, bisa juga tidak. Kalau memang iya sebagai penomoran nisan saja untuk buruh-buruh yang sudah meninggal. Artinya ribuan buruh yang meninggal. Sebab bila diamati pada nisan-nisan yang berhasil diinventarisir terdapat mulai dari nomor yang rendah mulai puluhan (2  digit) hingga ribuan (4 digit) seperti halnya nomor nisan 2353, dan masih terdapat agak lebih tinggi dari hitungan dua ribuan itu.   
Temuan-temuan berangkat dari penjelasan dan keterangan para orang tua-tua Sawahlunto yang pernah dimintai keterangan menjelaskan bahwa dulu terdapat lokasi khusus sebagai pemakaman ‘orang rantai. Keberadaannya sekitar dikaki bukit Puncak Polan/Sugai, dalam kawasan Air Dingin, Kecamatan Lembah Segar[2], tidak begitu jauh dari komplek Museum Goedang Ransoem kota Sawahlunto. Bagaimana dengan jejak sejarah manusia perantaian itu hingga hari ini?
Berdasarkan keterangan yang menunjukkan makam ‘orang rantai’ berada dalam kawasan tersendiri. Peninjauan lapangan pun dilakukan meliputi wilayah Air Dingin, Tanjunga Sari-Aur Mulyo.
Kondisi awal dipertengahan tahun 2005[3] hingga 2008, kentara ditemui pada kawasan yang rekomendasi adalah; pertama sekitar kawasan makam ditemui dominan makam baru. Kedua; Beberapa nisan makam ‘orang rantai’ ditemukan sudah tidak pada posisi seharusnya terpasang, alias copot atau sengaja ditanggalkan untuk membuat makam baru kemungkinan besar. Kalau demikian makam lama jejak orang rantai itu, sudah terdesak dan bahkan  tergusur makam baru
Penelusuran terus dilakukan, karena tujuan belum tercapai ingin menemukan dan berharap makam hero tambang batubara di Sawahlunto itu masih ada. Pergerakan dari Air Dingin diarahkan ke Tanjung Sari dan Aur Mulyo. Ketiga; Satu ciri-ciri makam orang rantai sebagaimana diinformasikan ditemukan di Tanjung Sari. Nisan itu bertuliskan angka 2532, tidak memiliki jirat dan dalam keadaan In Situ. Posisinya berada dekat rumah penduduk, dapat dikatakan dihalaman rumah penduduk. Kondisi makam juga sudah banyak ditumbuhi semak dan berlumut. Ini dia yang cari-cari, susah betul. Padahal menurut keterangan masih banyak penduduk menjumpainya dalam jumlah ratusan hingga tahun 1980-an pada posisinya (In Situ). Apalagi kalau ditarik jauh kebelakang dan mengingatkan jumlah angka buruh tambang Ombilin-Sawahlunto yang mencapai ribuan. Dimana sebagian besar mereka adalah para perantaian sejak awal tambang dibuka diawal abad-19 hingga tahun 1938.
Meskipun sudah ditemukan yang sebuah makam pada bagaimana poisi sebenarnya, kondisi dan fakta mendorong untuk menelusuri kondisi lainnya. Berpuluh-puluh nisan terus ditemukan dalam keadaan yang menguatkan bahwa yang benar-benar In Situ hanya 2353, informasi penunjuk lainnya tinggal memori dan ingatan kolektif masyarakat lama Sawahlunto saja sepertinya.
Keempat; coba ayo....! bagaimana sampai berani dan teganya oknum masyarakat menjadikan nisan orang rantai sebagai bantalan jembatan diatas got saluran air, pagar taman bunga di halaman rumah, sebagai injakan tangga menuju rumah atau tangga pada gang  jalan umum. Bagi saya pribadi yang lebih membuat merinding adalah menjadikan nisan makam orang rantai sebagai pelengkap bahan membangun bagian rumah penduduk. Ada masyakat yang mengaku bahwa dibawah lantai bagian rumahnya terdapat nisan orang rantai yang disusun sebagai pengeras dan pemadat tanah sebelum dipasang lantai semen. Ada lagi yang menjadikannya sebagai penganti batu dan bata untuk membuat pondasi piring-piring atau teras rumah. Ada-ada saja ya?
Keterangan dilapangan selama penelusuran. Kelima; makam-makam itu satu periode memang ada oknum yang membongkar, tapi bukan untuk membuat makam untuk orang yang baru meninggal. Namun ada yang diburu dan diambil dari nisan makam itu. Kami juga menjadi heran, apanya yang diambil, sebab fakta sebelumnya yang ditemukan hanya dimanfaatkan untuk beberapa kegunaan seperti dijelaskan diatas.
Oow.... ini lain lagi ceritanya, pembongkaran sesi ini sekaligus merusak dan meobrak -abrik nisan. Aksi itu dipicu urusan besi tua. Lho.... apa hubungannya dengan nisan yang terbuat dari semen coran itu. Diluarnya memang terlihat utuh sebagai paduan pasir kerikil dan semen. Di dalam coran itu ternyata terdapat batangan besi yang menjadi kerangka nisan. Tujuan dipasang besi itu sudah jelas agar struktur nisan menjadi kokoh kiranya, pantasaan beratnya.
Sekitar bulan November 2008 survey dan peninjauan lapangan kembali dilakukan. Namun apa yang ditemukan sangat mengecewakan. Sebab satu-satunya nisan bertuliskan angka 2532 ditemukan dalam keadaan dibongkar.
Keadaan yang memprihatinkan itu diperlukan sebuah tindakan. Untuk itu pada tahun 2008 yang lalu Bidang Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Sawahlunto telah melakukan penyelamatan dengan mengumpulkan nisan-nisan yang berserakan dan tersebar diberbagai tempat seperti rumah dan pekarangan penduduk di Air Dingin, Tanjung Sari dan Aur Mulyo. Bekerjasama dengan masyarakat hingga saat sekarang sudah terkumpul +70 nisan dengan berbagai kondisi. Sementara kumpulan nisan itu ditempatkan dalam kawasan Museum Goedang Ransoem Kota Sawahlunto. Kita masih bersyukur masih ada yang dapat diselamatkan.
Nisan-nisan ini pernah diproyeksikan menjadi sebuah monumen yang akan disatukan dengan situs bekas Penjara Orang Rantai di Sungai Durian. Pemerintah kota dalam hal ini tidak bekerja sendiri, sebagaimana selama ini telah dibantu oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) dalam menangani Benda Cagar Budaya di Sawahlunto serta pihak lainnya.
Visi dan Misi baru masa depan Sawahlunto sesungguhnya mengarahkan dan berharap juga pada kesadaran serta peran serta masyarakat dalam melestarikan kemasalaluan Sawahlunto. Apalagi menyangkut aset masa lampau yang akan menjadi bagian menata kehidupan dengan visi misi baru. Rekonstruksi masa lalu Sawahlunto mau tidak mau menjadi keharusan sebagai sebuah sendi yang akan memperkuat identitas Kota Wisata Tambang yang dicita-cita dan perjuangkan.
Proses alam memang sulit dihindari, namun perilaku buruk manusia bisa menjadikannya hancur lebih cepat. Sesungguhnya ini merupakan sebuah potensi yang akan menambah perbendaharaan Objek Wisata Sejarah dan Ziarah Kota Wisata Tambang Sawahlunto. Masihkah kita mengabaikan warisan cagar budaya yang terdapat sekitar kita? Padahal jika kita mau mengambil manfaat darinya, tidak perlu dengan merusak apalagi sampai mengahancurkan.
Disini juga bahwa kesadaran memahami masa lalu untuk hari ini dan akan datang itu harus. Sebab hari ini tidak akan mempengaruhi masa lalu, tapi hari ini adalah sejarah yang akan mempengaruhi masa depan. Dan masa depan itu apakah pasti ada? Semua kita tidak akan ada yang bisa menjamin dan berkata bahwa ada. Mereka-reka itu yang bisa kemukakan. Mereka-reka atau mengira-ngira itu antara ada dan tiada. Jadi yang pasti sudah ada itu adalah masa lalu. Masa kini sedang berproses dan belum berakhir. Berbagai hasil final bisa terjadi. Sementara masa depan belum pernah dan baru akan terjadi. Seperti sebuah mobil yang akan melaju dengan kencang ke depan. Spion pun semakin berfungsi dan semakin sering dilihat untuk memastikan keadaan sekeliling samping kiri-kanan apalagi belakang. Lupa? Akan fungsi cermin kecil itu, bahaya siap menyambut. Demikian pula masa lalu, hendaknya menjadi alat ukur, tempat berkaca. Menoleh atau melihat kebelakang bukan berarti kita mundur, tapi untuk mengukur seberapa kecepatan untuk maju.


[1]Mengenai sejarah tambang batubara Ombilin-Sawahlunto telah dikupas
secara komprehensif lihat Erwiza Erman., Membaranya Batubara: Konflik Kelas dan Etnik, Ombilin-Sawahlunto-Sumatera Barat (1892-1996). Jakarta: Desantra, 2005.
[2]Lembah Segar sekarang, pada masa Belanda dikenal dengan Lembah Soegar (Soegar Kloof). Ada yang menafsirkan Belanda menyebut kawasan ini dengan Soegar, mengacu pada kata sugar dalam kata bahasa Inggris  yang bermakna gula dan berasa manis. Bagi Belanda yang dimaksud Soegar/sugar yang manis itu merupakan kiasan yang merujuk pada batubara yang terdapat dikawasan itu sangat berkwalitas dengan mutu kandungan kalori sempurna. Kalau batubara itu diangkat/diekploitasi akan mendatangkan banyak uang (gulden)kalau dipasarkan. Hasilnya tentu ‘manis’ sekali dinikmati.fakta peninggalan lobang tambang Soegar membuktikan perihal penambangan dan kwalitas batubara dikawasan Soegar Kloof (Lembah Segar). Warisan lobang tambang dan lorong-lorong perburuan batubara itu saat ini masih nyata dapat disaksikan. Bahkan sudah menjadi objek wisata tambang yang dapat dikunjungi. Objek Wisata Lobang Tambang Mbah Soero saat ini dikenal banyak orang. Objek Wisata inilah sesungguhnya yang dimaksud Lobang Soegar oleh Belanda. Hingga saat sekarang wisatawan/pengunjung masih dapat melihat posisi batubara dalam perut bumi dengan jelas dengan memasuki Lobang Tambang Soegar yang menjelma menjadi Objek Wisata Tambang Sawahlunto.
[3]Pada tahun 2005 pertengahan, kegiatan penelusuran, pemetaan, perburuan dan inventarisasi berbagai peninggalan sejarah Sawahlunto terutama terkait erat dengan berbagai sejarah tambang batubara dilakukan dalam upaya menjadikan berbagai potensi kesejarahan untuk menegaskan visi dan misi baru kota Sawahlunto sebagai Kota Wisata Tambang pasca produktivitas tambang batubara yang kian melemah. Untuk itu sebuah lembaga Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman diwujudkan dengan harapan dapat menjalani fungsi dan tugas sebagaimana diamanatkan dalam SK. Walikota Sawahlunto Nomor: 12 Tanggal 14 Maret Tahun 2005 Tentang pendirian UPT. Peninggalan Bersejarah dalam lingkungan Kantor Pariwisata Kota Sawahlunto.

1 comment:

  1. Kicing yang biasa disebut batu nisan ini, masih banyak berserakan dan belum ada daya upaya untuk mengumpulkan keseluruhan... kasihan sekali nasib para buruh rantai ini, didunia sisiksa, setelah matipun disiksa juga...

    ReplyDelete

Senang dengan komentar, tanggapan maupun saran Anda. Terima Kasih